1 Simas Sehat
gbr gbr

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Masih Bersedih dan Dada Terasa Sesak Setelah Kehilangan Pasangan

Tanya :

Dear Dokter,

Suami saya meninggal 2 bulan yg lalu dan sampai saat ini saya masih bersedih sampai dada saya terasa sakit dan sesak. Tapi saya masih bisa melanjutkan aktivitas secara normal, apa yang harus saya perbuat sekarang ?

 

ROSALIA OKTAVIADI (32 tahun)

rossaoctavia49@gmail.com

Tinggi Badan : 158 cm, Berat Badan : 91 kg

 

Jawab :

 
Salam sehat, Ibu RO,

Pertama-tama, izinkan Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya suami Ibu. Kami sangat tersentuh melihat ketegaran Ibu yang tetap mampu melanjutkan aktivitas sehari-hari di tengah duka yang begitu besar.

Rasa sedih yang mendalam hingga memicu sensasi fisik seperti dada terasa sakit, sesak, atau mengganjal adalah respons yang sangat wajar pada proses berduka (grief). Kehilangan pasangan hidup hanya dalam kurun waktu dua bulan adalah perubahan emosional yang amat besar. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai respons broken heart syndrome ringan atau somatisasi emosi, di mana stres emosional yang hebat memicu pelepasan hormon stres (seperti adrenalin dan kortisol) yang membuat otot-otot dada berkontraksi, rasa sesak, serta detak jantung berdebar. Tubuh dan pikiran kita saling terhubung erat; fisik sering kali menjadi wadah untuk melepaskan beban emosi yang belum selesai diolah.

Perawatan di Rumah untuk Menenangkan Pikiran dan Fisik

  • Berikan Izin pada Diri Sendiri untuk Berduka: Jangan memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat. Jika rasa sedih atau menangis tiba-tiba datang di sela aktivitas, izinkan emosi itu keluar tanpa menghakiminya.
  • Latihan Pernapasan Dalam (Deep Breathing): Saat dada terasa sesak atau pitam, duduklah dengan tenang, hirup napas perlahan melalui hidung selama 4 detik, tahan 2 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut selama 6 detik. Ini membantu menenangkan sistem saraf yang tegang.
  • Jaga Asupan Nutrisi dan Istirahat: Meski selera makan menurun, usahakan tetap mengisi perut dengan makanan bergizi porsi kecil dan minum air putih yang cukup agar fisik Ibu tidak semakin drop.
  • Bercerita pada Orang yang Dipercaya: Bagikan perasaan, kenangan, atau rasa rindu Ibu kepada keluarga dekat, sahabat, atau support group yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
Hal yang Sebaiknya Dihindari

  • Hindari Menekan atau Memendam Emosi: Berusaha berpura-pura "semua baik-baik saja" atau menimbun rasa sedih justru akan membuat tekanan emosional berpindah menjadi nyeri fisik yang lebih berat di kemudian hari.
  • Jangan Terburu-buru Mengambil Keputusan Besar: Hindari mengambil keputusan besar dalam hidup (seperti pindah rumah, menjual barang berharga, atau berganti pekerjaan) saat kondisi emosional masih sangat rentan.
  • Hindari Mengisolasi Diri Sepenuhnya: Meskipun butuh waktu sendiri, hindari mengurung diri terlalu lama dari interaksi sosial dengan orang-orang tercinta.
Tanda Bahaya (Kapan Harus Segera Berobat ke Dokter)

Panduan kesehatan jiwa dan fisik dari World Health Organization (WHO) mengingatkan untuk mewaspadai jika respons berduka berkembang menjadi gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan medis mendesak. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika Ibu mengalami:

  • Nyeri dada yang sangat hebat, terasa menekan kuat, menjalar ke lengan kiri, leher, atau punggung (untuk memastikan bukan gangguan pada jantung).
  • Sesak napas berat yang tidak membaik meski sudah beristirahat atau membuat Ibu kesulitan berbicara.
  • Muncul keputusasaan mendalam atau pikiran untuk mengakhiri hidup.
  • Ketidakmampuan total untuk tidur atau makan selama beberapa hari berturut-turut.
Ibu sudah melakukan hal yang luar biasa dengan tetap menjalankan aktivitas harian. Namun, memulihkan hati membutuhkan waktu dan proses yang tidak bisa diukur dengan kalender. Jika nyeri dada atau rasa hampa ini terus mengganggu ketenangan Ibu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum (untuk evaluasi fisik dada Ibu) serta Psikolog Klinis atau Konselor Berduka untuk menemani proses penyembuhan emosional Ibu.

Semoga Ibu senantiasa diberi kekuatan, kedamaian hati, dan kesehatan fisik dalam menjalani hari-hari ke depan.

Referensi:

  • WebMD: Grief and Its Physical Effects on the Body.
  • World Health Organization (WHO): Mental Health Aspects of Bereavement and Grief.
Salam sehat,

Team Dokter Simas Sehat